Wawancara
Home > Berita > Audisi Umum > [Audisi Umum 2017] Dari Tak Suka Jadi Cinta
08 September 2017
[Audisi Umum 2017] Dari Tak Suka Jadi Cinta

Hari pertama final Audisi Umum Djarum Beasiswa Bulutangkis 2017 pada Jum’at (8/9) sudah menampilkan pertandingan-pertandingan seru. Setiap peserta terlihat berupaya maksimal untuk bisa memenangi pertandingan yang mereka jalani.

Salah satu di antara 139 peserta yang lolos ke tahap final adalah Fardhan Zaky Wibisono, peserta asal Surabaya. Gagal di Audisi Umum Djarum Beasiswa Bulutangkis di Surabaya, Fardhan justru sukses meraih Super Tiket di Kudus.

“Kemarin dia di Surabaya gagal, setelah lolos screening dia langsung kalah saat lawan atlet asal Banyuwangi. Mentalnya jelek, pernah kalah sama lawannya. Dan dia baru pertama kali ikut Audisi Umum, tahun lalu memang tidak saya ikutkan mainnya masih begitu-begitu aja. Mungkin dia tegang karena dia main di lapangan tepat para legend berada. Tangannya aja gemeter. Banyak mati sendiri,” ujar sang ayah, Arif Wibisono.

Terlihat ngotot di sepanjang pertandingan, ternyata Fardhan pernah tak menyukai bulutangkis, bahkan ia tak mau berlatih. “Awalnya dulu dia nggak suka main bulutangkis, karena capek katanya. Dulu almarhum kakaknya memang bulutangkis juga, waktu kakaknya main, saya ajak liatihan. Panas, capek di sini. Tapi saya sabar ajak dia ke lapangan di Surabaya, terus akhirnya dia mau. Saya ajak ke KSC dia jadi suka, dan bergabung bersama KSC,” lanjutnya.

Baca juga: Tontowi/Liliyana Diguyur Bonus Rp 1 Milyar

“Sekarang suka, karena bulutangkis itu seru. Karena ya seru, bisa ditonton orang, terus punya keahlian. Sekolah susah, banyak pelajaran susah,” cerita Fardhan.

Fardhan mulai dikenalkan ke dunia bulutangkis sejak usia dini. Sang ayah yang memang lahir di keluarga pecinta bulutangkis, langsung menularkan kecintaannya. “Kalau ditanya kenapa saya suka bulutangkis, ya harus tanya bapak saya. Karena saya suka bulutangkis juga karena bapak dan kakek saya main bulutangkis. Bahkan kalau turnamen Agustusan, biasanya keluarga saya semua yang jadi juaranya,” ujar Arif.

Ia pun menuturkan bahwa dia memiliki target tersendiri untuk sang anak. Tak hanya target untuk satu atau dua tahun mendatang, tetapi untuk jangka panjang. Dilema tersulit untuk menekuni bulutangkis adalah untuk memutuskan pilihan antara bulutangkis atau sekolah. Dua pilihan ini akan sulit dijalani bersama, dan memiliki konsekuensi masing-masing.

“Saya memang berikan dia target, kalau nanti sampai kelas tiga SMP dia prestasi bulutangkisnya masih gitu-gitu aja atau mentok, saya akan tarik dia untuk pulang dan sekolah saja. Karena SMA sudah mulai fokus biar berprestasi bagus, penentuan untuk bisa ke perguruan tinggi dan menentukan karir dia nantinya,” lanjut sang ayah.

Jelang Audisi Umum, Fardhan memang mempersiapkan diri lebih ekstra. Beruntung, pihak sekolah pun mendukung keputusan Fardhan untuk menekuni bulutangkis dan memberikan kompensasi untuk belajar lebih singkat di sekolah. Ia berlatih setiap hari mulai pukul 14.00 hingga pukul 18.00.

“Fardhan memang salah satu atlet saya yang bandel. Bandel dalam artian positif dan terarah bukan kurang ajar. Saya memang suka atlet yang bandel, biasanya mereka mentalnya kuat, karena kalau atletnya malu-malu nanti mainnya malu-malu nanti malah malu-maluin coachnya,” ujar sang pelatih, Azmar.

Di mata sang pelatih, Fardhan kecil merupakan sosok pekerja keras. Namun di usianya yang masih muda, Fardhan memang agak sedikit emosional. “Dia pekerja keras, tapi kadang emosinya masih terlalu labil namanya anak-anak. Saya mau berusaha untuk mengubah emosinya jadi semangat tidak ingin kalah. Dalam beberapa bulan terakhir pun memang dia punya perubahan cukup drastis. Dia bisa lebih rileks saat bertanding, dan saya sebagai pelatih tentu senang melihat perubahan positif dari dia,” tambah Azmar yang pernah melatih enam tahun di negeri Jiran, Malaysia.

Fardhan pun masih terus melaju di arena Audisi Umum Djarum Beasiswa Bulutangkis. Hari Sabtu (8/9) besok, Fardhan masih akan terus melakoni pertandingan. Jika bisa melaju ke tahap berikutnya, Fardhan akan kembali bertanding pada Sabtu petang. Semangatnya untuk bisa bergabung pun begitu besar, dukungan orang tua pun menjadi salah satu motivasi Fardhan.

“Kalau bisa masuk di sini kan enak. Tempat latihannya nyaman, semua biaya juga ditanggung di sini dan latihannya juga bagus. Nggak akan sedih walau jauh dari orang tua,” ungkap Fardhan mantap.

“Untuk bulutangkis itu biayanya tinggi, itu berat sekali. Makanya Djarum Beasiswa Bulutangkis ini kami sangat bersyukur. Kalau dia bisa masuk tahun ini, ya saya akan sangat bersyukur sekali,” pungkas sang ayah.

Setelah dua kali menjalani pertandingan, finalis Audisi Umum Djarum Beasiswa Bulutangkis 2017 masih berhasil lolos ke tahap berikutnya. Mereka akan melakoni pertandingan ketiga besok (9/9) pagi, dan setelah pertandingan ketiga akan kembali ditentukan siapa yang akan melaju ke tahap selanjutnya. (RI)