Inspiring Story
Home > Berita > Inspiring Story > Debby Sempat Tak Didukung Keluarga Saat Memilih Bulutangkis?
01 Januari 1970

Kisah perjalanan seorang Debby Susanto untuk bisa mencapai podium juara All England bersama Praveen Jordan pada Minggu (13/2) lalu, bukanlah hasil dari sebuah proses mudah. Cerita panjang ini bermula di Palembang, kota pertama Audisi Umum Djarum Beasiswa Bulutangkis 2016.

Di Bumi Sriwijaya ini lah, Debby kecil mulai dikenalkan bulutangkis oleh sang ayah, Susanto Darmawan. Mulai menggeluti bulutangkis sejak kelas lima Sekolah Dasar (SD), Debby kecil kemudian diberi target oleh sang ayah, jadi juara. Satu tahun berselang, Debby berhasil menjawab tantangan sang ayah. Ia sukses mencuri gelar tunggal putri Pekan Olahraha Pelajar Nasional (POPNAS).

“Setelah itu kemudian dia memutuskan untuk menekuni bulutangkis,” kenang sang ayah.

Anak ketiga pasangan Susanto dan Sugiaty Budiman ini pun memilih bulutangkis untuk menjadi bidang yang ia tekuni. Sebuah jalur yang sempat tak mendapat dukungan dari keluarga besarnya. “Dulu saya masih dokter muda, waktu itu biaya bulutangkis pun cukup besar. Kadang saya harus naik bus puluhan jam antar Debby turnamen ke Medan. Saya jual tanah dan segala macam, bahkan saya sampai berhenti jadi PNS waktu itu,” lanjutnya.

Menjadi pemain bulutangkis memang menjadi impian Debby, segala kendala saat Debby kecil mulai mengayun raket terus berdatangan. “Waktu itu keluarga besar saya sempat berujar kalau untuk sekolah, kami bisa bantu, tetapi kalau untuk bulutangkis kami tidak akan bantu,”

Berkat kesabaran, ketabahan serta disiplin dan kerja keras dari Debby sendiri, semua kendala perlahan bisa diatasi. Keinginan keras atlet yang lahir di Palembang, 3 Mei 1989 ini pun akhirnya memikat beberapa pencari bakat dari klub papan atas tanah air.

Sempat berpindah di dua klub kenamaan tanah air, akhirnya salah satu pelatih ganda PB Djarum, Ade Lukas memanggil Debby untuk bergabung bersama PB Djarum. Sejak tahun 2006 lah, Debby kemudian memakai kaos bertuliskan Djarum Badminton Club di dadanya.

Darah bulutangkis sendiri memang sudah mengalir di darahnya. Sang ayah adalah pelatih pertamanya, dan pelatih yang kerap memberikan Debby program latihan tambahan. “Debby itu anaknya pekerja keras, tidak pernah mengeluh meskipun dia capek, dan akhirnya salah satu mimpinya menjadi kenyataan,” tambah sang ibu.

Meskipun darah bulutangkis sudah mengalir dari sang kakek, tetapi Debby memilih jalur yang tidak biasa. Ayahnya adalah seorang dokter kenamaan di Palembang, namun putri satu-satunya ini justru memilih bulutangkis.

“Zaman sekarang kita tidak bisa memaksakan mereka untuk jadi apa. Kami sendiri memang memberikan keleluasaan kepada mereka untuk memilih. Dari keempat anak saya, tidak ada yang jadi dokter. Satu di ekonomi, satu di perminyakan dan satu di teknik industri. Tetapi kami punya prinsip, saat mereka sudah memutuskan untuk memilih, mereka harus benar-benar menekuninya,” tambah Susanto.

Lika-liku perjalanan Debby dari awal memegang raket hingga akhirnya mengangkat thropy All England, memang bukan perjalan singkat, bukan perjalanan instan. Bukan pula perjalanan yang ringan. Tetapi kali ini, Debby berhasil mengukir namanya sebagai salah satu juara di turnamen tertua di dunia. Gelar kelima ganda campuran Indonesia, dan ganda campuran ketiga yang berhasil membawa pulang gelar ini. Gelar ini pun sekaligus menjadi gelar super series premier pertama bagi Jordan/Debby.

“Semoga mimpi Debby untuk bisa juara dunia dan medali Olimpiade bisa terwujud,” pungkas Sugiaty. (RI)