Inspiring Story
Home > Berita > Inspiring Story > Yuni Kartika, Sang Bintang Layar Kaca
01 Januari 1970

Bila anda menonton siaran langsung bulutangkis di layar kaca, maka akan sangat akrab dengan sosok ini. Dialah Yuni Kartika yang hampir selalu hadir di acara siaran langsung bulutangkis. Komentar-komentarnya yang tajam dan pengetahuan bulutangkis yang mumpuni, membuat ia dipercaya berbagai stasiun televisi. Sudahkah anda mengenal lebih dalam sang bintang layar kaca ini?

Yuni Kartika, kelahiran Semarang, 16 Juni 1973, merupakan anak bungsu dari pasangan Tjoa Soe Sien dan Sri Hartati. Yuni mulai bermain bulutangkis sejak umur 6 tahun. Ia mengenal permainan tepok bulu ini setelah melihat ayah dan kakaknya berlatih. Awalnya, ia ikut latihan dengan orang-orang dewasa. Setelah pukulannya sudah memadai, ia baru bergabung dengan atlet-atlet cilik lainnya. Klub Praba Jaya, Pekalongan menjadi tambatan pertamanya. Frekuensi latihannya di klub menjadi lebih sering, dari sebelumnya seminggu sekali, menjadi beberapa hari dalam satu pekannya.

Saat duduk di bangku kelas 6 SD, Yuni melihat iklan penerimaan atlet PB Djarum Jakarta di sebuah Surat Kabar. Sebenarnya penerimaan tersebut diperuntukan bagi atlet yang berada di Jakarta, sedangkan untuk Jawa Tengah, bisa mendaftar ke Semarang atau Kudus. Namun atas anjuran sang ayah, Yuni tetap mendaftar seleksi PB Djarum  Jakarta. Seleksinya sangat unik, dimulai dari wawancara oleh Prof. Singgih Gunarsa dilanjutkan dengan tes IQ, tes psikologi dilanjutkan tes fisik, baru tes kelima dengan bermain bulutangkis.

Yuni berhasil melewati tes dan diterima di klub PB Djarum Jakarta. Terdapat 12 nama yang lulus bersama Yuni, antara lain Ardy B Wiranata, Zarimah, Jean Pattikawa dan Monica Halim. Ia mulai berlatih dibawah bimbingan Darius Pongoh (ayah dari Lius Pongoh), Tan Joe Hok dan Liang Chiu Sia. Disinilah Yuni mendapatkan penempahan yang lebih berat dari sebelumnya.

Tahun 1986, Yuni pindah ke PB Djarum Semarang hingga selama tiga tahun. Ia mulai mengikuti pertandingan bulutangkis dan sering menjadi juara kelompok umur 15 tahun. Prestasi ini membawa Yuni terpilih masuk Pelatnas Pratama. Ia bergabung bersama Susy Susanti, Lilik Sudarwati, Ika Henny, Yuliani Sentosa, di asrama khusus Pratama di Jalan Bulutangkis, Senayan. Berbeda dengan pemain Pelatnas Utama, yang bertempat di Jalan Manila, Senayan.

Tahun 1989, Yuni sudah diikutsertakan dalam Invitasi Dunia Junior namun belum berhasil menjadi juara. Setahun berikutnya, Yuni mampu menjadi juara Dunia Junior saat masih berumur 17 tahun. Di babak final, Yuni berhasil mengalahkan pemain China Li Lijun. Sejak saat itu, Yuni mulai melanglang buana mengikuti berbagai turnamen Internasional.

Yuni terpilih sebagai pemain tim Uber Cup Indonesia tahun 1992. Namun tim Indonesia hanya mencapai babak semifinal setelah ditaklukkan Korea, 1-4. Dua tahun berikutnya Yuni kembali terpilih menjadi anggota tim Piala Uber. Kali ini, giliran Indonesia menggilas Korea, 4-1 di babak semifinal. Indonesia menggenggam Piala Uber setelah mengalahkan China, 3-2 di partai puncak.

Tahun 1992 bisa dikatakan sebagai tahun puncaknya prestasi Yuni. Selain anggota tim juara Piala Uber, ia tampil baik di beberapa turnamen perorangan.

“Salah satu yang berkesan ketika menjadi finalis Malaysia Open 1992. Karena saat itu non unggulan tapi mampu menembus final, sebelum kalah dari pemain China Huang Hua,” kenang Yuni.

Ajang Indonesia Open juga cukup berkesan baginya , walaupun ia lebih sering terhenti di semifinal. Tahun 1992, ia kalah di babak empat besar dari seniornya Sarwendah Kusumawardhani. Ia juga kalah di babak yang sama tahun 1994 dan 1996 dari lawan yang sama, sang super star Susy Susanti.

Tahun 1992, juga merupakan tahun kelabu bagi Yuni. Saat itu, ia bertanding selama tiga pekan beruntun dari China Open, Hong Kong Open dan Thailand Open. Namun di pekan terakhir, keluarganya di tanah air mengalami kecelakaan lalu lintas. Ibunya meninggal dunia, sedangkan ayah dan kakaknya dalam kondisi kritis.

“Saya dikasih tahu setelah pulang ke Jakarta. Saya mengalami kesedihan yang mendalam, apalagi saya sebagai anak bungsu dan masih sangat muda, umur 19 tahun,” ungkap Yuni.

Kejadian ditinggal ibu membuat Yuni terpukul. Beruntung ayah dan kakaknya berangsur sembuh beberapa bulan kemudian. Prestasi Yuni pun kemudian melorot tajam, dari peringkat 10 besar dunia sebelum peristiwa itu, menjadi terlempar keluar 10 besar.

“Saya sering kehilangan konsentrasi saat pertandingan. Sebenarnya saya tidak ingin seperti itu tetapi kejadian sedih tersebut sering muncul tiba-tiba,” ujar Yuni.

Tahun 1995, Yuni yang baru berumur 22 tahun, memutuskan gantung raket di usia muda. Ia meneruskan pendidikan ke perguruan tinggi hingga jenjang sarjana. Ia juga mengikuti sekolah jurnalistik. Selama kuliah, ia juga bekerja di sebuah perusahaan periklanan.  Sejalan dengan pendidikannya, Yuni kerap menjadi pembawa acara maupun komentator di berbagai stasiun televisi.

Aktifitas Yuni tidak jauh dari bulutangkis. Meskipun ia merasa tidak cocok menjadi pelatih, namun ia punya cara lain untuk tetap dekat dengan olahraga yang dicintainya. Kini, Yuni didaulat menjadi pengurus PP PBSI sebagai Kepala Bidang Humas. (Hendri.K)