Inspiring Story
Home > Berita > Inspiring Story > Hastomo Arbi, Dari Titik Nol Menjadi Pahlawan
01 Januari 1970

Audisi Umum PB Djarum menyambangi kota Solo mulai hari ini, sabtu (9/4) hingga Senin (11/4) mendatang di GOR Sritex, Solo. Dalam rangka mencari pemain berbakat untuk meraih beasiswa bulutangkis tersebut, PB Djarum mendatangkan sejumlah legenda dan pelatih untuk melihat langsung talenta-talenta muda bulutangkis. Salah satu anggota tim pencari bakat adalah Hastomo Arbi yang bisa dikatakan salah satu legenda Indonesia sekaligus pelatih PB Djarum. Dengan perannya tersebut, maka Hastomo sudah siap dengan kreteria atlet yang dicarinya.

“Saya mengharapkan atlet yang punya kemauan. Anak sekarang rata-rata kemauannya kurang keras dan gampang menyerah,” ungkap Hastomo.

Padahal, menurutnya secara teknik, atlet-atlet sekarang lebih bagus dari jaman dulu. Pengalamannya dulu, pola latihan mencari sendiri dan lebih banyak langsung bermain. Sedangkan sekarang, sudah banyak panduan cara berlatih yang benar. Itulah alasan, mengapa ia menitikberatkan bukan semata-mata teknik bermain melainkan menjadikan atlet yang pantang menyerah sebagai pilihannya.

 

Mengenal Hastomo Arbi

Hastomo Arbi merupakan anak kedua dari pasangan Ang Tjin Bik atau yang lebih di kenal dengan Arbi dan Sri Hastuti atau Goei Giok Nio. Hastomo lahir di Kudus, 5 Agustus 1958. Ia merupakan perintis bagi adik-adiknya Eddy Hartono dan Hariyanto Arbi, yang kemudian mengikuti jejak Hastomo sebagai atlet bulutangkis.

Kisah perkenalan Hastomo dengan bulutangkis dimulai di daerahnya Kudus dimana olah raga ini menjadi permainan favorit anak-anak. Masa itu, Hastomo masih berusia kurang dari 10 tahun. Bapak dan ibunya juga senang bermain bulutangkis, bahkan sang bapak merupakan juara di level Kota Kudus.

“Kalau hari minggu, saya menunggu orang-orang dewasa main agar mendapatkan kock-kock bekas. Lalu setiap hari,  sepulang sekolah saya bermain bulutangkis bersama teman-teman. Raket yang  dipakai, masih raket dari kayu, “ ungkap Hastomo.

Ketika ia berumur 12 tahun, PB Djarum mulai memberikan beasiswa bulutangkis kepada anak-anak. Hastomo merupakan atlet anak-anak kedua yang masuk PB Djarum setelah Liem Swie King. Anggota PB Djarum adalah orang-orang dewasa dan karyawan PT. Djarum .

Saat itu, kejuaraan bulutangkis masih sedikit. Ia lebih banyak mengikuti pertandingan persahabatan klubnya seperti ketika bertandang ke klub PB Oke dan PB Rajawali Surabaya. Ada juga pertandingan keliling ke kampung-kampung. Pertandingan resmi sendiri, ia ikuti setahun sekali. Baru ketika ia berumur 15 tahun, ia dan Liem Swie King mendapat teman berlatih seusianya setelah PB Djarum menerima kembali  8 atlet anak-anak.

Tahun 1975, Hastomo didaulat mengikuti Kejurnas kelompok Yunior. Ia berhasil menjadi semifinalis untuk tunggal dan runner up di nomor ganda berpasangan dengan Pranoto.  Pencapaian ini membulatkan tekad Hastomo untuk menjadi atlet bulutangkis. Namun, ia punya alasan tersendiri, yang menyebabkan ia semakin menekuni bulutangkis.

“Motivasi menjadi atlet adalah untuk bisa membelikan rumah bagi orang tua. Saat itu kami masih tinggal di rumah kontrakan dan sering pindah-pindah. Jadi alasannya sesederhana itu. Bukan mengejar juara karena saya pesimis dengan postur saya yang tidak tinggi,” ungkap Hastomo.

Tahun 1977, ia sudah mampu menjadi juara di level Jawa Tengah yakni diajang Moenadi Cup. Ia juga mengikuti seleksi untuk tim PON Jawa Tengah dan ia terpilih. Di ajang PON 1978, meskipun ia kalah di nomor perorangan, tetapi ia meraih emas di sektor beregu bersama rekan-rekannya. Di tahun 1978 pula ia mengikuti seleksi masuk Pelatnas dan sempat gagal sampai enam kali. Pada kesempatan ketujuh tahun 1979, ia akhirnya berhasil menjadi juara seleksi masuk Pelatnas.

Berkat kegigihannya untuk masuk Pelatnas, mengantarkan Hastomo merebut medali emas SEA Games 1979 yang berlangsung di Jakarta. Dengan hadiah dari berbagai kejuaraan yang ia kumpulkan sedikit demi sedikit ditambah bonus medali emas SEA Games, ia mampu memenuhi janji untuk membelikan rumah buat orang tuanya.

Perjalanan hidup dan karir tidaklah selalu mulus. Bencana menimpa Hastomo Arbi ketika tampil di All England 1982. Sesampai di kota London, ia terserang flu dan minum obat.

“ Ketika pemeriksaan doping, saya ditanya minum obat apa. Tetapi saya gak bisa menjawabnya dalam bahasa Inggris,” kenang Hastomo

Kejadian itu berimbas beberapa bulan kemudian ketika ia terpilih sebagai pemain Thomas Cup Indonesia. Di ajang yang bergengsi yang juga berlangsung di kota London tersebut, ia dinyatakan tidak boleh bertanding, padahal ia sudah berada di London. Hastomo dinyatakan gagal tes doping ketika turnamen All England dan dihukum satu tahun tidak boleh bertanding. Hastomo seolah kembali ke titik nol dalam perjalanan karirnya.

Sekembalinya dari masa hukuman, Hastomo langsung menggebrak. Ia meraih runner up Malaysia Open dan Indonesia Open, yang menyebabkan ia menjadi pemain peringkat kedua Indonesia. Ia pun terpilih sebagai pemain tunggal Indonesia di Thomas Cup bersama Liem Swie King dan Icuk Sugiarto.

Puncak ketenaran seorang Hastomo terjadi ketika ia dieluk-elukkan sebagai pahlawan kemenangan Piala Thomas tahun 1984 di Kuala Lumpur. Ketika itu Indonesia berhadapan dengan China di final. Indonesia dianggap lemah di nomor tunggal terbukti dengan kalahnya Liem Swie King dari Luan Jin dan Icuk Sugiarto dari Yang Yang. Sementara Hastomo berhadapan dengan salah satu pemain legenda China Han Jian.

Sebelumnya Hastomo sudah tiga kali kalah dan belum pernah menang dari pemain tirai bambu tersebut. Namun Hastomo berhasil menjawabnya dengan kemenangan. Indonesia mampu mengalahkan China 3-2 setelah di nomor ganda Christian Hadinata/Hadi Bowo dan Liem Swie King/Kartono merebut poin. Meskipun bukan poin penentu, Hastomo dianggap pahlawan kemenangan Indonesia oleh berbagai media saat itu.

Karir internasionalnya berakhir tahun 1985, ketika ia pensiun dari Pelatnas. Namun Hastomo tidak langsung berhenti bermain. Ia masih mengantarkan klubnya menjadi juara Kejurnas Beregu tahun 1988.

“Saya sepertinya hoki main di beregu. Saya beberapa kali juara. Pernah di turnamen lokal tahun 1975, saya menjadi penentu kemenang klub Djarum atas PB Kotab dengan mengalahkan Lie Sumirat. Padahal saya waktu itu masih yunior, sedangkan Lie adalah pemain top,” tutur Hastomo

Sekembalinya ke klub Djarum, Hastomo menekuni profesi sebagai pelatih tunggal putra di Kudus. Namun ia tetap semangat menjaga kebugaran dengan push up, jongkok-berdiri dan bersepeda setiap. Ia melakukannya bisa sebelum atau sesudah melatih dan ditambah lagi setiap hari minggu naik sepeda mendaki  gunung. Tidak heran di usinya sekarang, ia tetap bugar. Bahkan tahun 2015 lalu, Hastomo mampu menjadi Juara Dunia kelompok Veteran nomor tunggal putra Usia diatas 55 tahun. (Hendri.K)