Inspiring Story
Home > Berita > Inspiring Story > Si “Bola Karet”, Lius Pongoh
01 Januari 1970

Lius Pongoh atau dikenal juga dengan nama panggilan Nyonyong, lahir di Jakarta 3 Desember 1960, putra sulung dari pasangan Darius Pongoh dan Kartini. Ia mengenal bulutangkis dari ayahnya sejak sangat kecil, ketika masih berumur 3 tahun.

Setelah memasuki masa sekolah, Lius kecil yang tinggal di daerah Pasar Minggu, Jakarta Selatan, setiap hari latihan lari dari rumahnya sampai ke perempatan Pancoran. Aktifitasnya dilanjutkan membantu mama-nya berjualan, lalu sekolah siang hari dan latihan bulutangkis. Klub pertamanya bernama PB Anggara, kemudian berpindah ke klub Garuda Jaya.

Lius berpindah klub lagi ke PB Tangkas dimana ayahnya menjadi pelatih pada tahun 1968. Lius mulai mengikuti kejuaraan dari tingkat wilayah hingga provinsi DKI Jakarta. Sebuah kenangan yang tak terlupakan ketika Kejuaraan anak-anak DKI Jakarta. Ia kalah di semifinal dan akan bertanding dengan semifinalis lainnya untuk memperebutkan juara ketiga. Saking semangatnya, dari tribun ia loncat melewati bangku dan malah tersandung. Lius tidak sadarkan diri selama 15 menit. Setelah siuman, ia diberi waktu istirahat sebentar lalu main. Ia pun menang dan berhasil menjadi juara ketiga.

Perjalanan karir bulutangkisnya terus berlanjut. Tiada hari tanpa latihan bulutangkis. Bila ia tidak latihan maka akan terkena pukulan, sebagai hukuman dari ayahnya. Bakatnya sebagai pemain bulutangkis, mengantarkannya diterima Sekolah Olahraga, SMA Ragunan. Ia menjadi siswa sekolah tersebut dari tahun 1977 hingga 1980. Semasa SMA, ia kerap mengikuti turnamen domestik salah satunya Surya Cup di Surabaya.

Ia pertama ikut turnamen di luar negeri pada turnamen bulutangkis remaja tahun 1977 bersama Bobby Ertanto, Hadi Bowo, Ivana Lie di Genting Highland, Malaysia. Ia berhasil menjadi juara ganda putra bersama Bobby Ertanto. Musim berikutnya, ia meraih medali perak dalam kejuaraan bulutangkis pelajar ASEAN di Singapura setelah kalah dari rekannya Bobby Ertanto di final. Kemudian,  ia menjadi juara nasional junior 1978 di Semarang. Dipertengahan studinya di SMA Ragunan, tahun 1979, Lius dipanggil bergabung ke Pelatnas.

Sebagai pemain nasional, ia menjadi salah satu tumpuan Indonesia di berbagai turnamen. Diantara prestasi yang dicetaknya adalah semifinalis Kejuaraan Dunia 1980, Juara Swedish Open 1981, runner up Japan Open 1981, juara ganda putra Japan Open 1981 dan juara ganda putra Swedish Open 1982 bersama Christian Hadinata.

“Dulu pemain ganda tidak terlalu banyak, jadi sering bermain rangkap ganda putra maupun ganda campuran. Setiap hari Senin sampai Rabu, pagi latihan berat sesuai dengan nomornya. Sorenya dibalik, pemain tunggal bermain ganda agar melatih depend dan no lob depan. Sedangkan pemain ganda belajar main tunggal, agar cover lapangannya bagus,” kenang Lius.

Karir Lius mendapat cobaan ketika tahun 1982 mengalami cedera pinggang. Atas saran ayahnya, ia keluar dari Pelatnas untuk berkonsentrasi pada penyembuhan cederanya. Menurut ayahnya, kalau memang ia layak, pasti bisa kembali lagi ke Pelatnas.

Tahun 1983, ia mulai lagi karirnya dari awal dengan mengikuti kejuaraan level kejurcab, kejurda, sampai akhirnya kejurnas. Tahun 1994, ia mengikuti Seleknas dan berhasil kembali ke Pelatnas.

Ajang Indonesia Open 1984 menjadi pengalaman paling berkesan sepanjang karirnya. Ketika itu, mamanya sedang dirawat di rumah sakit. Setiap hari, selesai bertanding, ia menunggu di Rumah Sakit ditemani rekannya Richard Mainaky. Bagan pertandingannya satu jalur dengan Misbun Sidek (Malaysia) dimana Lius sering kalah. Ia mendapat keberuntungan karena Misbun kalah dari sang rekan, Richard Mainaky. Kemudian Richard kalah dari Lius.

Dibabak berikutnya, Lius berhasil menumbangkan nama-nama besar saat itu seperti Morten Frost Hansen dari Denmark di perempat final, legenda Indonesia Liem Swie King di semifinal dan Hastomo Arbi di babak final. Kemenangannya atas Liem Swie King mempunyai kenangan tersendiri, dimana terjadi rubber game dan game ketiga, ia ketinggalan 1-14. Lius sudah pasrah dan hanya coba menahan saja. Tetapi ternyata angin berbalik, dan Lius menjadi pemenang. Ia melaju ke babak final. Sebelum bertanding di partai puncak, Lius minta doa restu sang mama.

“Mama bilang nanti kamu pasti dapat batu tetapi susah diambil,” kisah Lius. Ia pun memenangkan babak final. Seperti sudah punya firasat, dua hari kemudian, sang mama menghadap sang pencipta.

Lius merupakan pemain yang memiliki stamina yang prima. Dengan tubuhnya yang tergolong pendek untuk ukuran pemain bulutangkis, ia mengandal keuletannya dalam pertandingan. Kemampuannya dalam menguasai lapangan, menjadikan ia dijuluki si “Bola Karet” oleh berbagai media kala itu.

Ia mempunyai pengalaman lain yang kurang menyenangkan. Ia Ikut ajang All England sebanyak 8 kali, tapi selalu kalah di babak 8 besar. Padahal ia mampu menjadi juara di beberapa rangkaian turnamen sebelum dan sesudahnya seperti  English Masters, Danish Open dan Swedish Open. Lawan yang dihadapi pun tidak jauh berbeda seperti diajang All England.

Tahun 1988, Lius kembali menderita cedera penipisan tulang rawan di bagian lutut. Meskipun masih bisa bertanding, ia lebih banyak kalah dibabak-babak semifinal ataupun perempat final. Atas saran ayahnya, ia megundurkan diri dari Pelatnas, agar memberikan kesempatan kepada pemain lainnya yang ingin masuk Pelatnas.

Selepas pensiun dari arena bulutangkis, ia sempat bekerja di salah satu Bank milik pemerintah daerah. Ia juga sempat menjadi pengurus PBSI dan menjabat sebagai ketua bidang pembinaan dan prestasi. Tahun 2010, ia mundur dari jabatannya tersebut dan bergabung dengan PB Djarum di awal Februari 2011. Di PB Djarum, ia menjabat sebagai administrasi dan Operational Support Coordinator.

Kini, Lius terlibat aktif dalam pencarian pemain berbakat, dalam Audisi Umum PB Djarum. Ia bersama para legenda bulutangkis Indonesia lainnya, berkeliling sejumlah kota untuk mencari bibit potensial sebagai calon penerima bea siswa bulutangkis Djarum. (Hendri.K)