Inspiring Story
Home > Berita > Inspiring Story > Diperlukan Hal Lain Saat Melatih Bulutangkis
01 Januari 1970

Jauh berada di belahan bumi lain, tepatnya di Atlanta, USA, Christian Hadinata terlihat risau karena anak didiknya yang merupakan pasangan ganda putra Indonesia Ricky Subagja/Rexy Ronald Mainaky sedang bertanding melawan ganda putra Malaysia Cheah Son Kit/Yap Kim Hock di partai final Olimpiade 1996.

Saat itu, posisi Ricky/Rexy sedang tertinggal karena kalah di game pertama dan tertatih-tatih di pertengahan game kedua. Ia sudah tidak bisa memberikan instruksi teknis kepada anak didiknya, permainan bisa dibilang kacau dan mengkhawatirkan. Ia hanya bisa memberikan motivasi dan dan memperbaiki mental keduanya. "Seperti ada dukungan dari Tuhan, akhirnya posisi berbalik. Pasangan ganda putra Indonesia membalikkan keadaan dengan merebut game ke-2 dan ke-3, hingga akhirnya merebut medali emas Olimpiade," cerita Christian.

Pengalaman yang terjadi 18 tahun itu menjadi hal manis yang tidak terlupakan sepanjang kariernya sebagai pelatih bulutangkis. Maka tidak heran jika medali tersebut menjadi salah satu barang yang paling dikenangnya hingga kini. Christian Hadinata adalah salah satu pelatih bulutangkis terbaik yang dimiliki Indonesia. Koh Chris (panggilan akrabnya-red) kurang lebih sudah memiliki 13 gelar juara selama menjadi pelatih. Gelar tersebut diraih dari beberapa ajang Olimpiade, All England, dan Thomas Cup.

Dalam melatih bulutangkis, penyuka film The God Father ini memiliki metode pendekatan personal terhadap anak didiknya, khususnya bagi atlet pemula. Ia akan menanamkan terlebih dulu esensi bulutangkis kepada calon atlet. Sosok atlet bulutangkis yang baik adalah seseorang yang memiliki kedisiplinan dalam segala hal, baik itu soal latihan dan disiplin dalam mengatur kehidupan pribadi. Secara tidak langsung atlet yang baik harus memiliki mental juara di lapangan dan di luar lapangan. Artinya, seorang atlet juga harus mampu meraih citra yang baik di kehidupan pribadinya. Sehingga masyarakat bisa menilai bahwa atlet-atlet PB Djarum atau mantan atlet PB Djarum memiliki sikap dan perilaku yang positif. Menurut pelatih kelahiran Purwokerto, 64 tahun lalu ini, dunia bulutangkis Indonesia itu memiliki sejarah yang baik di mata dunia, sehingga ia berharap kepada para atlet pemula dapat memiliki semangat dan ambisi untuk meneruskan prestasi yang sudah diraih generasi sebelumnya.

Ia mengumpamakan regenerasi bulutangkis itu seperti lari estafet 4x100 meter. Pelari pertama adalah generasi yang diwakili oleh Tan Joe Hok, saat dia berhasil menjadi orang Indonesia pertama yang menjuarai All England tahun 1959. Dialah yang mengawali sejarah bulutangkis Indonesia di tingkat internasional. "Saya bisa dibilang termasuk pelari kedua yang sudah selesai juga tugasnya sebagai pemain. Nah, anak-anak inilah yang sekarang menjadi pelari ketiga dan keempat. Kalau pelari pertama dan kedua sudah bagus, sudah berhasil meraih waktu yang baik, jangan sampai pelari seterusnya kesalip dari pelari lain yang akhirnya jadi kalah."

Tapi jangan khawatir, kekeluargaan di dunia olahraga bulutangkis Indonesia sangat erat. Saya sebagai generasi lama akan berusaha untuk terus membantu anak-anak muda untuk terus berlatih dan menjaga sejarah sukses bulutangkis Indonesia di mata dunia. Penggemar lagu "We are The Champion" ini merasa bahwa inilah saat yang tepat baginya untuk mengembalikan apa yang telah ia dapat selama menjadi pemain bulutangkis, selama ia menjadi juara dunia. "Kini saatnya saya mengembalikan apa yang telah saya terima selama ini dari bulutangkis. Meskipun bukan dalam bentuk uang, saya akan berusaha untuk terus melatih dan aktif menyumbang pikiran agar bulutangkis Indonesia tetap disegani negara lain."