Inspiring Story
Home > Berita > Inspiring Story > Luluk Hadiyanto, Berprestasi di Bulutangkis dan Pendidikan
01 Januari 1970

Ajang Audisi Umum Djarum Beasiswa Bulutangkis 2017 selalu diramaikan dengan kehadiran para legenda dan pemain terkenal di masa lalu. Luluk Hadiyanto, menjadi salah seorang mantan atlet yang turun gunung di Audisi Umum Djarum Beasiswa Bulutangkis 2017, tanggal 25-27 Maret di Pekanbaru. Tugas para legenda adalah mencari pemain-pemain berbakat yang berhak mendapatkan Djarum Beasiswa Bulutangkis.

Mengingat nama Luluk bersama pasangannya sewaktu aktif sebagai pemain Alvent Yulianto, maka kita akan terkenang bagaimana mereka meraih gelar juara ganda putra Indonesia Terbuka 2004 di bulan Desember 2004. Di partai final, mereka mengalahkan andalan negeri Tiongkok Fu Haifeng/Cai Yun, 15-8, 15-11.Kemenangan penghujung tahun tersebut melengkapi kecemerlangan mereka di tahun tersebut setelah menjuarai Thailand, Singapura dan Korea Terbuka.Kemenangan ini juga mengantarkan Luluk/Alvent sebagai pemegang peringkat satu dunia.

Disamping menekuni profesi sebagai atlet, Luluk juga punya keinginan kuat untuk tetap berhasil di bangku sekolah. Luluk menyimpan cerita tersendiri dalam perjalanan hidupnya ketika ia berhasil diterima di salah satu SMP favorit di kota Solo. Dikarenakan semangat berlatih bulutangkis dan belajarnya di sekolah yang tinggi, ia tidak memiliki waktu istirahat yang cukup.  Namun, ia melupakan kemampuan tubuhnya. Iapun jatuh sakit karena terkena hepatitis dan harus dirawat di rumah sakit. Salah seorang dokter yang merawatnya, memvonis jika nyawanya ingin diselamatkan maka saya harus melupakan bulutangkis. Mendapati pernyataan dokter tersebut, ia pun tak kuasa menahan tangis.

Sebagai seorang anak yang selama ini dibesarkan dan memiliki kecintaan terhadap olahraga bulutangkis dan bertekad berprestasi, ia tidak dapat menerima hal itu. Ayahnya tidak putus asa mencari informasi dengan meminta ganti dokter. Dokter pengganti yang merawatnya ini jauh lebih berpengalaman dalam menangani penyakit. Bahkan berdasarkan informasi, dokter pengganti ini pernah beberapa kali menangani atlet. Ia pun sembuh dan sehat kembali. Hal yang terpenting adalah ia dapat bermain bulutangkis kembali setelah selama hampir dua bulan dirawat.

Selama kurun waktu lebih dari 8 bulan lebih Luluk tidak berlatih bulutangkis. Bobot badannya pun semakin gemuk. Ia mulai berlatih sedikit demi sedikit dan memulai hidup dengan semangat baru, mengejar semua ketertinggalan baik di prestasi bulutangkis maupun pendidikan.

Saat naik ke kelas 3 Sekolah Menengah Atas, pihak Pusdiklat Allpro menitipkannya ke klub Djarum Jakarta. Peluang emas tersebut tentu tidak ia sia-siakan. Ia pun berlatih di Jakarta dan tetap bersekolah di Solo. Situasi yang tidak mudah karena harus berlatih di Jakarta selama 2 hingga 3 minggu. Agar tidak tertinggal mata pelajaran di sekolah, ia meminta bantuan sahabat atau kepala asrama untuk mengirimkan fotocopy catatan.

Prestasi bulutangkis Lulukpun mengalami peningkatan. Meski demikian, ia tidak kunjung mendapat panggilan Pelatnas di Cipayung. Sempat tersirat keinginan melanjutkan kuliah di UGM Yogyakarta karena saat itu wali kelasnya memberitahu jika ada jalur PMDK bagi atlet.

Meski ada kesempatan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi,  ayahnya terus menyemangati Luluk untuk tetap fokus meraih prestasi olahraga. Pilihan yang cukup berat. Akhirnya melalui pertimbangan yang matang dan usaha keras ia pun diterima di Pelatnas Cipayung, kawah candra dimuka perbulutangkisan Indonesia setelah menjadi  juara seleksi Nasional masuk pelatnas bulan Februari 1999 dan bulan juni 1999. Ia resmi menjadi anggota Pelatnas, Agustus 1999 yang pada akhirnya mengantarkannya ke jajaran elit pebulutangkis dunia. Ia sempat menempati peringkat satu dunia tahun 2004.

Selepas karirnya sebagai atlet, ia melanjutkan ambisinya menempuh pendidikan yang tinggi. Tahun 2009, Luluk mulai berkuliah di Universitas Indonesia jurusan Ilmu Administrasi Negara.Ia banyak mendapat bimbingan Prof. Retno Mayekti Multamia. Luluk lulus tahun 2013 dengan IPK 3,3.  Tidak puas dengan hanya jenjang sarjana, Luluk pun melanjutkan studi kembali  di pasca sarjana Universitas Negeri Jakarta dengan mengambil jurusan Magister Sport Management  tahun 2014. Saat ini, Luluk bekerja sebagai pegawai negeri sipil (PNS)  di Kemenpora. Ia juga didaulat sebagai salah seorang pelatih bulutangkis di Sekolah Khusus Olahraga (SKO ) Ragunan. (Hendri.K)