Inspiring Story
Home > Berita > Inspiring Story > Senior, bukan Superior
01 Januari 1970

Adalah sang papa, yang mengenalkan bermacam-macam olahraga pada Vita kecil. Mulai dari berenang, billiar, tenis meja hingga bulutangkis. Yang terakhir inilah yang ternyata berhasil mengubah jalan hidupnya.

Meskipun bukan lahir dari keluarga atlet, namun Vita Marissa sangat menyenangi bulutangkis. Orangtua Vita sudah hafal kebiasaannya, setiap sepulang sekolah, ia selalu mencari raket dan langsung bermain bulutangkis di halaman rumah bersama kakaknya. Jika di luar hujan, maka Vita kecil bermain di bagian dalam rumah yang biasa digunakan papanya untuk memelihara hewan. Melihat ini, sang papa sama sekali tidak marah, kasih sayang dan dukungan penuh justru selalu diberikan pada putri bungsunya ini. Papa Vita memang penyayang binatang, dari ikan, ular hingga burung pernah dipeliharanya di dalam rumah. Selama memelihara burung, Papa Vita punya kebiasaan mengikir pijakan kaki burung agar pegangan kaki si burung semakin kuat. Ini juga diterapkan kepada grip raket Vita, agar pegangan raketnya lebih pipih dan mantap digenggam.

Berbekal dukungan dari kedua orang tuanya, atlet asal Jakarta ini mengikuti berbagai macam kejuaraan dan tidak jarang mendapatkan gelar juara. Padahal papanya tidak pernah mengiming-imingi Vita dengan hadiah jika ia juara. Begitu pula Vita, ia tidak pernah menuntut apapun dari sang papa. Kemenangan demi kemenangan baginya adalah bonus dari kecintaannya terhadap olahraga bulutangkis.

Papa Vita Marissa

Bergabung dengan PB Djarum membuat prestasi Vita Marissa semakin melesat. Bahkan baru-baru ini ia sukses membawa nama Indonesia di ajang US Open Grand Prix Gold 2014. Pemain berusia 33 tahun ini berasil menempati podium tertinggi di nomer ganda putri bersama Shendy Puspa Irawati, setelah sebelumnya sukses mengangkat gelar di nomer ganda campuran bersama Muhamad Rijal.

Dengan pengalamannya tersebut, kini Vita berperan ganda di PB Djarum: sebagai atlet, sekaligus mentor. Kepiawaiannya beraksi dalam nomer ganda putri maupun ganda campuran membuat PB Djarum memberikan kepercayaan padanya untuk melatih para junior. Salah satu keunikan Vita yang menonjol adalah ia mudah dipasangkan dengan siapa saja, bahkan pemain muda sekalipun. Di ganda putri, Vita tercatat pernah berpasangan dengan Nadya Melati, Deyana Lomban, Mona Santoso, Liliyana Natsir, Greysia Polii dan Variella Aprilsasi. Sementara di nomer ganda campuran, Vita pernah beraksi bersama Flandy Limpele, Nova Widianto, Hendra Aprida Gunawan, Muhammad Rijal dan Praveen Jordan. Saat baru berpasangan selama empat bulan bersama Praveen Jordan, Vita bahkan sudah berhasil menjadi juara di New Zealand Open Grand Prix 2013. Sebelumnya ia juga meraih gelar di nomor ganda putri Australia Open Grand Prix Gold 2013 bersama Variella Aprilsasi yang juga baru menjadi pasangannya sejak Januari 2013. “Intinya adalah kenyamanan. Bukan pola main yang kita sesuaikan, tapi aku mengajarkan mereka untuk nyaman dulu sama aku. Baru dari situ kita bisa ngomong tentang pola permainan..”

Bulutangkis bagi Vita bukan sekedar olahraga. Bulutangkis mengajarkan banyak hal positif tentang kehidupan. Tentang cara kita melatih kedisiplinan, cara kita bergaul, hingga cara kita menghargai orang lain. Vita Marissa memang seorang juara sejati, namun hingga detik ini tidak pernah ada selebrasi yang berlebihan dari keluarganya ketika ia menang. Begitu juga saat kalah, kedua orangtuanya cukup memberikan saran dan masukan secukupnya. Meskipun begitu, Vita sadar bahwa ia harus tetap memberikan yang terbaik. Bagi klub yang telah mendukungnya, bagi bangsa Indonesia yang tak berhenti mendoakannya dan bagi papa tercinta yang sampai hari ini masih setia mengikir pegangan grip raket kemenangannya.