Turnamen Internasional
Home > Berita > Turnamen Internasional > Butet, 24 Tahun Ukir Prestasi Untuk Indonesia
27 Januari 2019
Butet, 24 Tahun Ukir Prestasi Untuk Indonesia

Liliyana Natsir, salah satu pebulutangkis putri terbaik Indonesia secara resmi mengakhiri karirnya sebagai atlet bulutangkis hari ini, Minggu, 27 Januari 2019. Salam perpisahan sang atlet legenda yang akrab dipanggil Butet ini, ditandai dengan sebuah acara yang dilaksanakan sebelum pelaksanaan babak final turnamen Indonesia Masters Super 500 di Istora Senayan, Jakarta. Dalam acara ini Butet menyampaikan langsung pidato perpisahannya di hadapan ribuan penggemar bulutangkis yang hadir.

Hari ini merupakan hari yang berat buat saya. Hari ini minggu, 27 Januari 2019, saya menyatakan pensiun sebagai atlet profesional. Saya tidak akan bisa melupakan dunia bulutangkis. Dunia inilah yang membesarkan nama saya, membesarkan nama bangsa dan negara saya. Saya tidak pergi menjauh, tetapi memberikan kesempatan kepada adik-adik saya sebagai pemenang baru,” ujar Butet pada acara tersebut

Butet juga berpesan kepada para penerusnya. “Kekalahan itu tidak memalukan. Yang memalukan itu adalah menyerah.”

Bila melihat kembali pada perjalanan karirnya, Butet telah merangkai prestasi-prestasi selama 24 tahun karirnya. Butet, lahir di Manado, Sulawesi Utara, tanggal 9 September 1985, putri dari pasangan Beno Natsir dan Olly Maramis. Umur 9 tahun, Butet sudah bergabung di sebuah klub bulutangkis di Manado bernama klub Pisok.

Menginjak usia 12 tahun, Butet memutuskan pindah ke Jakarta untuk bergabung ke klub PB Tangkas. Tahun 2002, ia terpilih masuk ke Pelatnas Cipayung. Bakatnya di nomor ganda campuran sudah langsung terlihat. Bersama Markis Kido, ia menjuarai Kejuaraan Asia Junior dan Indonesia Open Junior 2002.

Tahun 2004, Butet ditunjuk untuk menggantikan Vita Marissa sebagai pasangan Nova Widianto. Penyebabnya Vita Marissa mengalami cedera. Saat itu Butet masih sangat muda, berusia 19 tahun. Berbagai gelar prestisius berhasil dipersembahkan Nova/Butet. Pasangan ini juara di ajang Kejuaraan Dunia 2005 yang berlangsung di Ahahem, Los Angeles, Amerika Serikat. Di partai final mengalahkan Xie Zhongbo/Zhang Yawen (China), 13-15, 15-8, 15-2.

Tahun 2007, Nova/Butet kembali meraih juara dunia ganda campuran pada pertandingan yang berlangsung di Kuala Lumpur, Malaysia. Mereka berhasil mengalahkan Zheng Bo/Gao Ling, 21-16, 21-14 di babak final.

Selain itu, Liliyana juga tampil cukup baik ketika turun di nomor ganda putri. Ia yang berpasangan dengan Vita Marissa, mampu meraih emas SEA Games 2007, juara China Masters Super Series 2007dan Indonesia Open Super Series 2008. Di Olimpiade Beijing 2008, Nova/Butet meraih medali perak setelah kalah 11-21, 17-21 dari pasangan Korea, Lee Yong Dae/Lee Hyo Jung di babak final.

Tahun 2009, Nova/Butet meraih prestasi sebagai juara Malaysia Open SS 2009, French Open SS 2009, medali emas SEA Games 2009 dan runner up Kejuaraan Dunia 2009.

Kemudian, pelatih ganda campuran Pelatnas memasangkan Butet dengan pemain lebih muda. Pemain asal klub PB Djarum Tontowi Ahmad terpilih sebagai pasangan Butet. Uji coba dengan Tontowi Ahmad di Macau Open GPG 2010, langsung menjadi juara.

Bersama pemain yang akrab dipanggil Owi ini, prestasi Butet makin mentereng. Ia meraih gelar juara All England tahun 2012 setelah di final mengalahkan pasangan Denmark Thomas Laybourn/Kamilla Ryhter Juhl, 21-17 dan 21-19. Ini merupakan penantian selama 33 tahun bagi ganda campuran Indonesia setelah terakhir gelar juara dipersembahkan Christian Hadinata/Imelda Wiguna pada tahun 1979. Sedangkan secara umum, hasil ini juga menghapus puasa gelar bagi tim Indonesia selama 9 tahun setelah sebelumnya pasangan ganda putra Sigit Budiarto/Candra Wijaya menjadi juara tahun 2003.

Owi/Butet mampu mempertahankan gelar All England di tahun 2013 dengan mengalahkan lawan yang kuat dari China Zhang Nan/Zhao Yunlei di final, 21-13 dan 21-17.

Owi/Butet berhasil menjadi juara tahun 2013 di Guangzhou, China. Mereka mengalahkan dua pasangan tuan rumah yang sangat diunggulkan, Zhang Nan/Zhao Yunlei 15-21, 21-18, 21-13 di semifinal dan Xu Chen/Ma Jin 21-13, 16-21, 22-20 di final.

Tahun 2014, Butet memutuskan untuk masuk klub PB Djarum, menyusul pasangannya Owi yang lebih dahulu menjadi atlet binaan PB Djarum. Setelah bersama PB Djarum Owi/Butet membuat prestasi-prestasi besar lainnya.

Owi/Butet mencetak hattrick di All England setelah kembali menjadi juara tahun 2014 dengan mengalahkan lawan yang sama Zhang Nan/Zhao Yunlei. Uniknya skornya pun sama seperti tahun sebelumnya yakni, 21-13 dan 21-17.

Namun Owi/Butet tidak berhasil meraih medali di Olimpiade London 2012. Kekecewaan tersebut berhasil mereka tebus empat tahun kemudian di Rio de Janeiro, Brazil. Mereka mengembalikan tradisi medali emas bulutangkis Indonesia setelah mengalahkan Chan Peng Soon/Goh Liu Ying (Malaysia) di final dengan skor, 21-14 dan 21-12.

Di tengah deraan cedera lutut, Butet masih mampu meraih gelar juara di tahun 2017. Owi/Butet meraih gelar juara Indonesia Open Super Series Premier 2017 di JCC Senayan, Jakarta. Owi/Butet mengalahkan pasangan China, Zheng Siwei/Chen Qingchen, 22-20, 21-15.

Owi/Butet bahkan berhasil meraih juara dunia untuk kedua kalinya atau keempat kali untuk seorang Butet. Di final Kejuaraan Dunia 2017 di Glasgow, Skotlandia, Owi/Butet berhasil mengalahkan pasangan China, Zheng Siwei/Chen Qingchen, 15-21, 21-16, 21-15. Lalu, Owi/Butet sukses menambah satu gelar superseries di French Open 2017.

Owi/Butet memang sudah mampu meraih juara Indonesia Open di tahun 2017. Namun saat itu pertandingan tidak dilaksanakan di Istora seperti biasanya sehingga ada stigma mereka tidak mampu juara Indonesia Open di Istora. Namun Owi/Butet berhasil menghapusnya dengan menjadi juara Indonesia Open Super 1000 tahun 2018 yang dilaksanakan di Istora, Senayan, Jakarta.

Indonesia Masters super 500 tahun 2019 menjadi turnamen terakhir bagi Butet dan pertandingan final Indonesia Masters, hari ini (27 Januari 2019) merupakan pertandingan terakhir bagi Butet. Ia pensiun dengan kenangan berbagai gelar juara bergengsi. Medali emas dan perak Olimpiade, empat kali juara dunia, tiga kali juara All England dan puluhan gelar juara lainnya merupakan bukti bahwa Butet atau Liliyana Natsir merupakan salah satu pemain putri terbaik Indonesia. Owi sebagai pasangan bermain, mempunyai kesan mendalam mengenai Butet.

Jiwa tidak mau kalah ci Butet itu besar sekali. Pola pikirnya itu untuk menang, di lapangan tidak gampang menyerah dan didukung skill yang memang bagus. Ci Butet tidak hanya sering memberi masukan di dalam lapangan tetapi juga di luar lapangan. Ci Butet merupakan panutan bagi saya dan pemain-pemain muda lainnya,” ujar Tontowi.

Sang pelatih, Richard Mainaky merasakan kehilangan dengan akan pensiunnya Butet.

Dia punya kemampuan, keterampilan dan kualitas pukulan yang sangat luar biasa. Anaknya sangat baik. Jadi saya merasa kehilangan,” tutur pelatih bertangan dingin tersebut.

Demikian pula dengan masayarakat penggemar bulutangkis turut memberikan tanggapan dengan pensiunnya Butet

Terimakasih dedikasimu untuk perbulutangkisan Indonesia, Butet. Nama dan prestasimu terbingkai manis dalam jejeran legenda Indonesia lainnya. Terimakasih dan maaf jika kami para Badminton Lovers, ada kesalahan dalam berekspresi, kurang dalam memberi dukungan,” tutur Nur Meyda Hidayati, salah seorang penggemarnya.

Sebenarnya mengatakan ini pun sambil menitikan air mata.. ci Butet. Enjoy your life, tidak banyak yang mampu saya utarakan selain kata terimakasih dan sempurna dan kalian para pelapis harus memiliki jiwa jangan mau kalah dengan siapapun unggulan mana pun,” tambah Yuli Dwi Aristiana yang merupakan pengagum Butet lainnya.

Selama 24 tahun karirnya, Butet telah mengukir prestasi bagi Indonesia. Akhirnya Butet mendapat apresiasi dari para penggemarnya dengan aksi #thankyoubutet. Prestasimu menjadi sejarah bangsa yang abadi.