Wawancara
Home > Berita > Wawancara > Seminar Sehari - "Mental Sang Juara"
28 April 2008
Seminar Sehari - "Mental Sang Juara"

Apa jadinya kalau para maestro, mantan bintang bulutangkis dunia, mantan atlet dan atlet-atlet yunior saling bertemu, berbincang dan membagi pengalamannya secara bersama. Inilah yang terjadi di GOR Djarum –Jati, Kudus, Sabtu 26 April 2006. Mereka terlibat dalam Seminar Sehari “Mental Sang Juara", yang mana sebagai moderator dalam acara tersebut adalah Dedi 'Mi-ing' Gumelar.

Acara yang digagas Pengda PBSI Jateng itu menampilkan Lilik Sudarwati Adisasmito, S.Psi (Penulis Buku “Mental Juara – Modal Atlet Berprestasi”) dan sejumlah maestro bulutangkis kelas dunia seperti Christian Hadinata, Liem Swie King dan Ivana Lie. Lilik berbicara mengemukakan hal-hal nonteknis tentang terbentuknya sebuah prestasi. “Faktor mental, selain fisik dan teknis (skill) merupakan penyangga utama. Delapan puluh persen kemenangan ditentukan faktor mental. Mantal Juara adalah, kesempurnaan individu dalam penguasaan emosi dan intelektual, “ katanya.

Sementara itu Ivana Lie menceritakan masa lalunya yang sulit ketika merintis karir sebagai pemain bulutangkis. “Mama saya seorang pembuat kue, dan visualisasi tentang kesulitan hidup itu yang mendorong saya menjadi juara,” katanya.

Ditambahkan lebih jauh, keinginan yang tinggi sebagai juara harus dilandasi dengan obsesi, biasanya dilandasi motivasi tinggi. Motivasi (internal dan eksternal) harus melandasi cita-cita.

Takut Menang

Acara paling seru adalah sesi tanya jawab. Para pemain yunior dari berbagai klub seperti Yogyakarta, Semarang, Grobogan dan Purwodadi memanfaatkan kesempatan untuk menyerangkan berbagai pertanyaan. Terutama pada termin dimana Christian Hadinata, Liem Swie King dan Ian Situmorang tampil.

“Saya sering takut menang ketika menghadapi lawan yang setingkat lebih atas,” kata salah seorang peserta. Ada juga pertanyaan seperti ini: “Saya pernah diolok-olok ketika menang sebagai kebetulan saja. Saya sedih menerima itu,” kata seorang atlet putri.

Ivana Lie menangkis cepat tentang pertanyaan-pertanyaan itu. “Tidak ada kemenangan yang sepenuhnya kebetulan. Jangan pula merasa takut menang, karena di dalam pertandingan siapa pun yang kita hadapi memang harus dikalahkan.”

Christian Hadinata menambahkan lebih tajam, “Jangan terlalu memberi penghormatan yang berlebihan terhadap lawan. Harus dibalik, lawan mesti menghormati kita. Untuk itu kita harus punya karisma dan punya kelas,” katanya.

Liem Swie King punya pengalaman sangat dramatis saat bertarung di lapangan. Tahun 1978 ia “terpaksa” mengalahkan Rudy Hartono. Di mata King, Rudy adalah idola, senior dan panutannya sejak kecil. Apa boleh buat, di medan pertarungan tidak ada senior-yunior, tugas paling utama adalah memenangi pertarungan.

v “Saya senang berhasil mengalahkan Rudy, tapi sedih karena idola saya terkalahkan. Yang paling takut kalau ditonton ayah saat bertanding. Saya selalu kena marah kalau main jelek,” katanya disambut tawa audiens.

Pergeseran Orientasi

Ian Situmorang, analisis bulutangkis Indonesia dan redaktur tabloid Bola mengemukakan hal-hal yang spesifik terhadap pencitraan bulutangkis Indonesia. “Para atlet tidak dipersiapkan bekal untuk bicara di depan publik. Sehingga publikasi kearah mereka tidak tergarap,” katanya.

Selanjutnya ia mencatat telah terjadi tujuh periodisasi juara dalam bulutangkis Indonesia. Dimana masing-masing periode memiliki orientasi yang bergeser. Ada perubahan orientasi, dari nasionalisme ke materialisme. Dari Tan Joe Hok hingga Taufik Hidayat. Generasi pertama dan kedua masih berorientasi membela negara. Generasi ketiga membela mancanegara, prize money telah bicara. Hingga periode ketujuh nanti, kontra prestasi semakin menguat.

Di sesi awal Ketua Pengda PBSI Jateng, Anwari memaparkan Sekilas Prestasi Bulutangkis Indonesia. Mulai dari masa kelahiran tahun 1920 sampai pembentukan PBSI tahun 1955.

Seminar diikuti sekitar 200 atlet diantaranya, Pengurus PB PBSI Jatim Yacob Rusdianto, Ketua Pengcab PBSI se Jawa Tengah, mantan maestro bulutangkis asal PB Djarum, Hastomo Arbi, Hariyanto Arbi, Eddy Hartono, Bobby Ertanto, Edi Kurniawan, Hadibowo, Heryanto Saputra.