Wawancara
Home > Berita > Wawancara > Wawancara Bersama Ihsan Maulana
02 Juli 2015
Wawancara Bersama Ihsan Maulana

Ihsan Maulana Mustofa berteriak dan mengepalkan tangannya yang kemudian disambut oleh pelukan rekan-rekan satu timnya. Adegan ini terjadi di perebutan medali emas SEA Games  2015 lalu yang digelar di Singapura. Kala itu, Ihsan menjadi penentu kemenangan tim merah putih atas Thailand dan menggenapkan kemenangan Indonesia menjadi 3-2. Ia berhasil mengatasi Suppanyu Avihingsanon dengan 20-22, 21-16 dan 21-9.

Ini menjadi kali pertama Ihsan turut di pertandingan multi event negara se-Asia Tenggara. Ihsan yang belum genap berusia 20 tahun ini sanggup mengemban tanggung jawab yang dibebankan dipundaknya. Setelah sebelumnya Ihsan pun berhasil mengatasi tekanan dan membawa merah putih ke partai puncak usai menekuk Malaysia 3-2. Atlet yang lahir di Tasikmalaya 18 November 1995 ini menang 21-12 dan 22-20 atas Mohamad Arif Abdul Latif.

Berikut wawancara Ihsan bersama PBDjarum.org

PB Djarum : Ini pertama kalinya kamu main pada ajang SEA Games, bagaimana perasaan kamu?

Ihsan : Perasaannya senang, bahagia, ya dan intinya saya bersyukur bisa mencapai hasil. Hasil emas, itu mungkin hasil kerja keras kami. Saya dan teman-teman, sampai babak final juga kan tidak gampang.

PB Djarum : Apa kunci kemenangan kamu pada SEA Games Singapura kemarin?

Ihsan : Kuncinya waktu di semifinal saya bermain positif, sabar, happy dan tidak takut. Percaya diri dengan kemampuan sendiri, meski musuh diatas semua usianya diatas kita, kita berfikir positif kalau kita bisa

PB Djarum : Bagaimana perasan kamu bermain sebagai penentu di final

Ihsan : Perasaan saya waktu jadi penentu ya tegang juga, Cuma saya tidak berfikir kesana, saya lebih banyak berfikir cara bermain di lapangan dan musuh-musuh saya. Dan saya tidak mau berfikir menang kalah, kalau saya berfikir menang kalah nanti malah saya jadi kurang fokus.

PB Djarum : Kamu juga sempat tertinggal beberapa poin apa yang membuat kamu termotivasi hingga bisa membalikan keadaan dan menang?

Ihsan : Waktu saat tertekan, saya mungkin belajar lagi untuk fokus dan untuk membalikkan keadaan, bagaimana saya bisa mengembalikan kepercayaan diri dan keyakinan saya. Saya harus lebih yakin dengan cara permainan saya, kalau saya juga bisa lebih baik dari dia.

PB Djarum : Apakah kamu merasa puas dengan hasil kemarin, karena walaupun jadi penentu kemenangan di beregu tetapi tidak diturunkan di nomor perorangan?

Ihsan : Kalau merasa puas ya tidak, hanya saya ingin sekali main di perorangan, tetapi keadaannya begitu. Dan dengan hasil ini saya tidak merasa puas, karena ada pertandingan beregu lain seperti Thomas dan Piala Sudirman.

PB Djarum : Menilai supporter di SEA Games Singapura apakah berpengaruh dengan hasil yang diraih?

Ihsan : Ya cukup berpengaruh, disana banyak orang Indonesia yang menyuport kita. Seperti biasa, Indonesia kayak gimana kalau support. Rame.

PB Djarum : Apa dan siapa yang memotivasi kamu dalam bertanding?

Ihsan : Kemarin sih motivasi saya yang pertama orang tua saya, ayah ibu, keluarga saya dan teman-teman juga. Saya ingin berusaha ingin memberikan hasil yang terbaik, dan mungkin kemarin saya berfikir saya bisa emas.

PB Djarum : Apakah ada pesan khusu dari orang tua selama kamu bertanding di SEA Games Singapura?

Ihsan : Kalau dari orang tua, mereka lebih banyak bilan kayak fokus, percaya diri dan intinya berdoa. Mereka selalu berpesan buat saya, intinya berdoa. Karena menutur saya juga kemarin, saya dikasih kesempatan dan tenaga kekuatan seperti itu berkat doa mereka?

PB Djarum : Target yang ingin dicapai tahun ini?

Ihsan : Target tahun ini saya ingin menaikkan ranking, sekarang ranking saya sudah 76 dan saya ingin tahun ini ingin sekali ke 50 atau 30 atau 40 besar, tahun depan saya ingin bermain di super series.

Harapan kamu kedepannya?

Buat harapan saya dari pertandingan kemarin semoga bisa memacu dan lebih percaya diri atas kemampuan saya. Bahwa saya bisa, bisa seperti senior-senior saya seperti Taufik Hidayat dan Simon Santoso.

Pesan yang ini disampaikan untuk keluarga serta para pecinta bulutangkis yang selalu setia  mendukung.

Untuk orang tua saya, saya mengucapkan terima kasih untuk ayah dan ibu. Karena pengorbanan mereka dari saya kecil sampai sekarang, saya masih bisa bermain bulutangkis. Saya juga minta maaf karena saya belum memenuhi target sampai juara dunia. Untuk badminton lovers, tetap dukung atlet-atlet Indonesia tetap mendukung kita, jangan hanya saat menang tetapi saat kalah juga harus tetap mendukung.