Pengumuman

Collapse
No announcement yet.

"Kutukan" Indonesia Open Untuk Para Legenda

Collapse
X
  • Filter
  • Waktu
  • Show
Clear All
new posts

  • "Kutukan" Indonesia Open Untuk Para Legenda

    Turnamen bulutangkis Indonesia Open mempunyai daya magis tersendiri bagi para pemain kelas dunia. Turnamen ini berkali-kali dinobatkan sebagai turnamen terbaik dunia. Hadiah yang diperebutkan selalu menjadi salah satu yang terbesar. Bahkan tidak semua legenda yang telah berpredikat juara dunia, mampu menjadi juara di Indonesia Open.

    Sebut saja salah satu nama legenda bulutangkis Lin Dan. Dua medali emas Olimpiade dan lima kali juara dunia telah diraihnya. Tetapi bertahun-tahun ia mencoba peruntungan di Indonesia Open dan hasilnya selalu gagal. Kita lihat data dalam tiga tahun terakhir saja, secara tak terduga, ia kalah dari pemain muda Indonesia Jonatan Christie, 12-21 dan 12-21 di Indonesia Open 2016. Demikian pula tahun 2015, Lin Dan harus mengakui pemain Indonesia lain Tommy Sugiarto, 21-19, 9-21 dan 16-21 di babak pertama. Sedangkan tahun 2014, ia tidak ikut serta.

    Setali tiga uang dengan rekannya Chen Long. Emas Olimpiade Rio dan Juara Dunia dua kali merupakan bukti kehebatannya tapi selalu terganjal di Indonesia Open. Tahun 2014, ia mencapai semifinal sebelum kalah dari pemain Denmark Jan O Jorgensen, 19-21 dan 18-21. Datang sebagai unggulan pertama di tahun 2015, ia terhempas di perempat final dari Kashyap Parupalli (India), 21-14, 17-21 dan 14-21 di perempat final. Sedangkan tahun lalu ia mundur di babak pertama dan memberikan kemenangan walkover kapada Sony Dwi Kuncoro.

    Dibagian putri, peraih emas Olimpiade dan dua kali juara dunia, Carolina Marin akan mencoba peruntungannya kembali. Dari data tiga tahun terakhir, ia kalah dari Wang Shixian dari China (perempat final, 2014), Yu Hashimoto dari Jepang (babak pertama, 2015) dan Wang Yihan dari China (semifinal, 2016). Padahal di pagelaran tahun lalu, ia merupakan unggulan utama.

    Dari kubu tuan rumah, Tontowi Ahmad merupakan sosok yang kurang beruntung bila menghadapi publik Istora. Pemain ganda campuran yang berpasangan dengan Liliyana Natsir ini juara merupakan juara dunia dan peraih emas Olimpiade, tapi selalu kalah di ajang terbesar di negerinya. Tahun 2014, tersandung pasangan Xu Chen/Ma Jin dari China (semifinal), lalu tahun 2015 kalah dari Zhang Nan/Zhao Yunlei (semifinal) dan tahun 2016 lebih tragis karena kalah dari pasangan kualifikasi Kim Astrup/Line Kjaersfelt (babak kedua).

    Kesialan Tontowi tentu tidak berlaku bagi Liliyana. Sebelumnya Liliyana telah dua kali menjadi juara Indonesia Open yakni tahun 2005 di nomor ganda campuran (berpasangan dengan Nova Widianto) dan ganda putri 2008 (berpasangan dengan Vita Marissa).

    Tahun 2017, pertandingan Indonesia Open tidak digelar di Istora Senayan melainkan dipindah ke Plenary Hall, JCC, Senayan. Pemindahan ini terkait direnovasinya Istora yang bakal digunakan untuk ajang Asian Games 2018. Pemindahan ini mungkin bisa melepaskan “kutukan” Indonesia Open bagi para legenda diatas. Mampukah Lin Dan, Chen Long, Carolina Marin dan Tontowi Ahmad menjadi juara di ajang ini? Simak pertandingannya tanggal 12-18 Juni 2017. (HK)


  • #2
    Tontowi berhasil melewati kutukan. Lin Dan, Chen Long, Marin, gak usahlah

    Komentar

    Bekerja...
    X